"it's like love is a bonus in your life. Even without it, I'm just fine. I don't feel like pointlessly searching for it. You don't have to make yourself unhappy."( Ookami Shoujo to Kuru Ouji)Dua atau tiga tahunan yang lalu, aku memutuskan untuk melanjutkan membaca manga ini karena terpesona dengan pemikiran tokoh utama pria di manga ini.
Aku bukan penggemar cerita cinta penuh konflik. Cerita cinta berliku dengan berbagai penderitaan tokoh utamanya yang kemudian berhasil mendapatkan cintanya kemudian konflik antara mereka, konflik, konflik dan konflik rasanya terlalu berat ku baca.
Kenapa harus membaca sesuatu yang membuat perasaan hati gak karuan ?
Kenapa gak mencari hal yang ringan saja yang membuat hati puas dan senang ?
Mungkin karena itu aku selalu mencari kisah cinta ringgan yang jelas berakhir happy ending dan terpilihlah manga ini(karena kupikir bakal ringan dan jelas happy ending).
Hehehe... walau akhirnya ku akui chapter yang sedikit banyak dan konflik tetap sedikit berat menurut...tapi aku tetap membaca dan tetap membaca hanya karena terpesona sungghuh pada pemikiran tokoh utama pria (qoute diatas).
Pemikiran itu sama persis seperti pemikiranku saat itu. "it's like love is a bonus in your life. Even without it, I'm just fine. I don't feel like pointlessly searching for it. You don't have to make yourself unhappy."( Ookami Shoujo to Kuru Ouji). Cinta disini tentu saja cinta cowok dan cewek.
"Aku mending mundur atau melarikan diri dari cowok yang mendekatiku saat aku tak yakin dapat memberikan sebongkah hatiku untuknya atau aku yakin tak bisa memberikan sebongkah hatiku untuknya" seperti itulah.
Namun, tahun-tahun setelahnya hingga hari ini cinta yang semacam itu justrulah yang mewarnai hari-hariku. Tak bisa move on selama tiga tahun kemudian masalah jodoh. Ini bukan manga, teman wanita seusiaku rata-rata memang sudah menikah dan aku belum.
Menikah, aku merasa itu penting sekarang sehingga aku tak mau asal menikahi orang. Cinta dan selektif memilih orang dan pemikiran itu tadi, kadang jadi merasa ada yang kontra di otakku.
Cinta sebagai bonus hidup semacam mengganggap cinta itu tidak penting2 bagt. TApi untuk menikah aku ingin dengan orang yang mencintai dan dicintaiku menjadikan cinta penting. sehingga menimbulkan kontra di hatiku. Aku ingin menikah tapi aku tidak terburu pada cinta. akibatnya menikah pun jadi tidak buru2. mungkin itulah yang buat aku belm menikah,
Yaa... akhirnya ku temukan titik temunya, benang ruwet itu...kutemukan ujung pangkal sebab akibatnya...
DAn perubahan apa yang harus kulalukan adalah menganggap cinta itu bagian dari hidup bukan hanya bonus dari hidup karena sekarang aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. pendamping.... aku merasa kurang....
fighting...You cant doit rizka ....