Rabu, 24 Februari 2016

renungan kata-kata

Orang-orang sering berkata "Ah beruntungnya dia, karir bla bla bla...", atau "aku ingin deh seperti dia, punya wajah cantik atau ganteng" atau "ah betapa malangnya dia".

Pernahkah mereka berfikir tentang perasaan dan kehidupan "dia" sebenarnya ?

Apakah iya "dia" yang berkarir bagus merasa beruntung ? Ada yang bilang kesuksesan itu selalu diimbangi oleh pengorbanan. Orang-orang yang berkata "Ah beruntungnya dia, karir bla bal bla ", sering kali dan biasanya orang-orang yang hanya bertemu dengan "dia" saat "dia" sudah sukses karirnya. Orang-orang yang mengikuti perjalanan hidup si "dia" seperti orang tua, saudara maupun teman terdekat tidak akan akan berkata demikian. 
Orang-orang seperti itu tahu bagaimana si "dia" berjuang mendapatkan apa yang dia inginkan. Mengorbankan waktu dan tenaga bahkan uang untuk mewujudkan yang dia inginkan. Orang-orang seperti itu tahu ada "harga" yang harus dibayarkan.

Kemudian bagaimana dengan orang-orang yang berkata "aku ingin deh seperti dia, punya wajah cantik dan ganteng" ?

Yang jadi pertanyaan adalah apakah mereka yang berkata demikian siap dengan konsekuensi memiliki wajah cantik dan ganteng ? ada konsekuensi untuk setiap hal. Bagaimana bila si "wajah cantik" setiap minggu melakukan perawatan wajah ataukah setiap kali jalan malam si "wajah cantik" selalu khawatir dengan orang-orang yang menggodanya karena kecantikannya. Siapkah mereka yang berkata mendapatkan konsekuensi si "wajah cantik".
Toh wajah cantik tidak serta merta mendapat apa yang diinginkan. Belum tentu wanita berwajah cantik mudah mendapat pacar.

"ah betapa malangnya dia" seseorang berkata pada pengemis.

Hehehe.... benarkah "dia" malang ? Bagaimana jika "dia" seorang penipu yang berusaha membuat dirinya tampak malang demi belas kasihan orang lewat. Sementara di rumah "dia" bertindak layaknya bos yang memiliki beberapa mobil mewah dan rumah gedongan.
Atau bagaimana bila "dia" adalah seseorang yang memiliki kekayaan hati. Seorang yang pandai bersyukur dan selalu merasa bahagia dan berkecukupan. Dia selalu terseyum dengan tulus kepada siapa pun. Hei.... kebahagiaan tidak selalu sejajar dengan jumlah harta yang dimiliki.

Hmm... pernahkan kau berfikir sebelum mengomentari kehidupan seseorang ? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar