Senin, 20 Maret 2017

Bukan review aadc 2 (melihat rangga dari diriku)

Kemarin, aku tanpa sengaja membaca review tentang film ini. Semakin membaca, semakin penasaran. Awal penanyangan di bioskop banyak teman yang kecewa walaupun ada juga yang cukup puas. Aku merasa film ini membawa beban berat. 'Aura' kesuksesan film sequelnya sebelumny begitu gemilang sehingga mau tak mau film ini 'diharapkan' seperti yang sebelumya. Kenapa 'diharapkan' ? Karena aku sendiri merasa lebih tepat menggunakan kata dituntut.
Imajinasi penonton aadc yang puas terhadap aadc 1 mungkin begitu dashyat sehingga melahirkan pengharapan terhadap film ini. Bisa dikatakan 'terlalu tinggi' bagi mereka yang merasa tidak puas setelah melihat film ini. Aku sendiri merasa puas dan tidak puas.
Banyak penonton tidak puas mempertanyakan karakter Rangga yang berubah. Rangga yang super cuek dan berkharisma menjadi lebih 'normal'. Silau kharisma tak seterang aadc 1. Yah, aku juga kehilangan tapi aku juga memahami.
Seseorang setelah 14 tahun tidak mungkin tidak berubah sama sekali. Paling tidak bajunya atau wajahnya. Bayangkan berapa jerawat yang mungkin muncul dalam 14 tahun.
Aku masih percaya lingkungan dan pengalaman memberi andil dalam pembentukan sifat. Karakter mungkin tidak bisa berubah tapi sifat bukan tidak mungkin berubah. Yah, sejak aku belum menonton filmnya aku sudah yakin sifat masih2 tokoh pasti berubah. Karakter rangga yang dulu ku kenal masih bisa kurasa dan kulihat, entah bagaimana itu sudah cukup.
"Sifat rangga menjadi temperament...". Aku membaca salah satu review aadc 2. Ahh... Bukan mau membela, tapi rangga yang ku kenal juga temperament​. Beda rangga aadc1 dan aadc2 hanyalah rangga yang aadc 2 lebih bisa bergaul. Mungkin dia belajar bergaul selama 14 tahun. 14 tahun yang lalu, aku seperti apa ya ?
14 tahun yang lalu, aku tentu masih smp. Mungkin aku secupu rangga waktu itu. Eit.. rangga tidak cupu, otomatis aku tidak cupu hahahaha... Yang jelas aku tak punya teman seperti rangga. Ahh... Mungkin lebih tepatnya aku tak tahu cara berteman. Orang yang kupikir teman entah bagaimana kulihat meninggalkanku dan berbisik tentangku. Untung masih ada yang mau disisiku dan tersenyum padaku sebagai teman.
Aku melihat teman lain sebagai anak gaul yang memandang rendah diriku. Mereka menatapku dangan tatapan mencela. Akibatnya aku tak berani, pendiam, dan minder. Tidak apa... Tidak apa... (Menepuk punggung diri sendiri). Mungkin karena itu aku mengerti yang dirasakan rangga.
Meninggalkan cinta karena tidak yakin pada diri sendiri. Itu juga aku langsung paham. Seringkali orang yang kusukai terlihat begitu tinggi dan silau. Dunia dia dan duniaku berbeda. Dia terlihat begitu bahagia dan teratur dengan dunianya dan duniaku semrawut, kacau.
Bukankan duniaku ini hanya akan merusak dunianya, dirinya ? Bukankah tanpa ku dia juga baik2 saja ? Toh dia tidak menarikku kedunianya dan sepertinya aku yang menjerumuskan dia dalam kekacauan duniaku.
Mungkin tanpa aku dia lebih bahagia ?
Namun, puisi di aadc 2 itu terasa benar
"Jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantungmu,  mereka yang datang kemudian hanya menyentuh kemungkinan.. " dan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar