Rabu, 16 Agustus 2017

Lagi - Lagi pilem... ("enoshima prism")

“ Hmmm... (menahan air mata)” Cuma itu satu kata yang bisa ku ucapkan di akhir film ini.

Akhir-akhir ini aku banyak kerjaan. Kerjaan yang tertunda dan membuatku sedikit stress dan tertekan. Jadi, ingin deh nonton film jepang untuk menghibur diri. Lah, kebetulanlah beberapa waktu lalu aku menemukan film ini di sela2 folder flashdiskku.

Aku bahkan sudah lupa2 ingat mengopi ni film. Judulnya Enoshima Prims. Ku lihat posternya. Ahh.... kurang menggoda. Maka dari itu film ini cukup lama nganggur di flashdiskku tanpa ku cicipi lebih dalam.

Yap, beberapa waktu lalu sempat iseng ku buka sebentar film ini. Beberapa menit pertama berisi 3 anak kecil yang mendaki gunung untuk melihat pelangi. 2 cowok dan 1 cewek, ah klasik pikirku. Salah seorang anak laki2 itu digendong anak yang lain, dia sakit ya pikirku lagi. Ahh ini sih klasik yang klasik.

 Menit kemudian seorang laki2 sma bangun, ahh pasti salah satu dari dua anak yang tadi pikirku lagi.terbayang deretan peristiwa di film yang terjadi. Perebutan cewek, cinta segitiga, sahabat yang mengalah, ahh ini super duper klasik sekali. Pasti bosenin, tutup ah. Akhirnya gak jadi nonton.

Sayangnya aku hari ini dah kehabisan ide. Film korea yang  kupunya satunya sudah kubaca sinopsisnya dan beneran rusuh sedihnya. Ahhh... aku tak ingin menambah kegalauan hariku gara-gara pekerjaan dan jodoh tentunya.

Ah tak papa klasik2 nanti juga berakhir happy ending. Semua senang semua bahagia. Karena aku cukup penasaran gimana keklasikan critanya(gini2 aku sudah banyak nonton kisah klasik macam itu). Aku cari sinopsisnya di internet dan WOW time travel. Akhir2 ini sering nonton time travel juga, oke deh kita lanjutkan, diriku mulai tertarik.

Beberapa menit, beberapa puluh menit aku menonton yang cukup menarik. Cukup ringan. Seorang laki2 tanggung yang mencoba menghidupkan sahabatnya(cowok) lagi dengan kembali ke masa lalu karena dia yakin sahabatnya inilah yang disukai sahabatnya yang lain(cewek) yang disukainya. Rempong juga kalau dijelaskan dalam satu kalimat itu.

Banyak adegan lucunya juga terutama saat cowok ini kembali ke masa sekarang dengan langsung menghilang. Kemudian ada “hero” cewek yang merupakan prinson of time(tawanan waktu). Ahh pengen deh mereka jadian (tapi ya gak mungkin.... ini bukan tipe film macam itu sepertinya). Yap entah bagaimana aku merasakan sisi gelap film ini dari awal yang tidak biasa(hohohoho...).

Aku menunggu klimaksnya, dan Doerrr.... klimak yang klise yang sudah kuduga dari awal. Kemudian tinggal masalah ending (please... please... aku ingin akhirnya bahagia). Sampai di akhir film... bahagia sih tapi kenapa aku pengen nangis lebih nangis...><


Why ada akhir yang seperti ini ??? why????  Intinya Tonton deh film ini bagi yang mbaca blogku atau tidak sama sekali. 

Rabu, 19 April 2017

Madre, si Biang dan aku



Hari yang cerah...Entah bagaimana air mata seakan justru menambah kecerahan hari ini...
"Leabay... lebay... lebay...." aku sudah membayangkan runtutan celoteh adikku bila kuceritakan kejadian pagi ini padanya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya mungkin akan seperti peluru pada senapan yang dikeluarkan beruntun. Jelas, tanpa tedeng aling-aling, dan pastinya mengena.
Pagi - pagi sudah diawali dengan air mata, pastinya.
Sudah lama aku tidak membaca yang benar-benar membaca. Mungkin itu yang membuatku kadang merasa ada sesuatu yang hilang. Buku dan diriku itu seperti buku dan diriku, hahaha.... Tidak sepenuhnya tidak membaca kok. Hanya saja yang kubaca tidak seratus persen kata-kata (komik mis) atau aku hanya membaca per berapa paragraf sehari untuk buku itu.
Baru tadi aku membaca hampir satu cerpen utuh(beberapa lembar pertama sudah kubaca kemarin2). Madre nama cerpennya, salah satu cerpen Dee lestari yang terkenal itu. Sudah dijadikan film sebenarnya. Hanya saja aku tidak begitu semangat untuk nonton. Bioskop dan aku tidak memiliki hubungan yang baik kau tahu. Kami saling membaut satu sama lain tak nyaman (hik...). Tapi sepertinya aku ingin menontonnya kali-kali.
Ceritanya bagus simpel dan air mataku susah terbendung saat mambacanya.  Madre ini berkisah tentang Tansen dan ya Si Madre, siapa lagi coba. Madre itu biang roti. Biang ini tersimpan dalam kulkas di Tan de Bakker. Usianya puluhan tahun melebihi si Tansen. Tansen sendiri adalah si bebas yang tak ingin terikat olah apa pun.
Kisahnya sederhana dan bisa ku tebak sih tapi tetap saja kisahnya sungguh mengalir dan ehmm... gitu. Sesuatu yang sederhana dan indah menurutku. Bagaimana kau menemukan sesuatu yang menjadi titik balik hidupmu ? Sesuatu yang kecil dan simple bisa merubah seluruh hidupmu. Pantas dijadikan film.
 Air mataku meluruh terus saat membaca tadi. Pagi-pagi sudah nangis kataku pada diriku sendiri. Yah, aku merasakan seluruh emosi dari para "pemain" cerita itu, bahkan Si Madre. Intinya sih aku jadi tak sabar membaca cerpen-cerpen selanjutnya. Great dan großartig....Lama gak belajar bahasa jerman....Fighting....

Senin, 10 April 2017

hmm... supersensitif atau highly sensitive ya...

"Ada kelegaan tersendiri saat suatu hari aku menemukan mengenai supersensitif..."

Its great day pikirku saat itu. Ternyata ini bukan kelainan dan semacamnya. Ada banyak orang yang merasakan apa yang kurasakan.
Supersensitif atau hiperly sensitive bukan semacam kekuatan super superman atau superwomen seperti itu. Memang highly sensitive, ada yang bilang karena keturunan juga. Terus apa itu Highly sensitive ? highly sensitive seperti namanya memang adalah sensifitas yang tinggi.
Highly sensitive person tentunya orang yang memiliki sensifitas yang tinggi. Apakah kamu seseorang yang terganggu karena cahaya lampu yang begitu terang ? Ataukah suara klakson selalu mengganggumu ? Ataukah kamu memberi titik batasan pada film-film kekerasan ? Ataukah kamu dengan mudah 'membaca' perasaan orang lain ?
Kalau dari pertanyaan-pertanyaan itu jawabannya ya, ya, ya, dan ya, ada kemungkinan kamu termasuk golongan ini. Beberapa menit yang lalu aku mendengarkan Hellonya Adele. Aku hampir nangis karenanya. Sampai saat ini perasaanku juga masih galau gara-gara lagu itu.
Beberapa artikel internet yang ku baca tentang HSP(highly sensitive person) ialah bahwa mereka cenderung mudah merasa panik dan depresi. Depresi dan panik harus digarisbawahi. Hal ini terjadi saat muda. Itu benar sekali.
Waktu muda cie... muda.... Saat SD, aku mengikuti les di dekat rumahku. Sering kali LES membuatku depresi. Pak guru les suka sekali menceritakan 'ilmu kehidupan' pada muridnya di waktu longgar. Cerita2 itu sering kali membuatku merasa ketakutan yang luar biasa.
Aku heran kenapa orang lain bisa santai mendengarkan cerita macam itu. Walaupun sudah lupa ceritanya tapi perasaanku saat itu belum aku lupakan dan aku bisa membangkitkannya. Untungnya ada seorang teman SDku juga yang merasa sama, jadi aku tak merasa aneh dengan diriku.
Cerita aja seperti itu apalagi film kekerasan. Aku benar2 nonton film yang berbau kekerasan itu bisa dihitung jari. Ini, itu, dan itu, rasanya gak mau ah nonton film itu dari pada menimbulkan trauma mending gak usah nonton.
Bau menyengat itu menggangu. Suara keras itu distraction. Cahaya lampu yang terlalu terang juga membuat tidak nyaman.
Saat aku berbicara dengan seseorang, aku tidak hanya mendengarkan kata2 yang keluar dari mulutnya. Aku melihat dan menganalisa bahasa tubuhnya, wajahnya, nada bicaranya dan lain2. Hmm... orang itu lebih sering berkata lewat bahasa tubuh daripada kata2 ya.
Melihat di  sosmed banyak juga gambar-gambar quotes tentang inin. Jadi semangat ! menyemangatin diri perlulah. Hmm... soal highly sensitive ini aku lebih suka menganggapnya kelebihanku.Kata test yang aku jalanin di internet baru-baru ini "kemungkinan besar aku termasuk Highly sensitive person". Okelah kataku, toh ada baiknya juga. Fighting !!

Senin, 20 Maret 2017

aku dan ookami shoujo to kuru ouji

"it's like love is a bonus in your life. Even without it, I'm just fine. I don't feel like pointlessly searching for it. You don't have to make yourself unhappy."( Ookami Shoujo to Kuru Ouji)
Dua atau tiga tahunan yang lalu, aku memutuskan untuk melanjutkan membaca manga ini karena terpesona dengan pemikiran tokoh utama pria di manga ini.

Aku bukan penggemar cerita cinta penuh konflik. Cerita cinta berliku dengan berbagai penderitaan tokoh utamanya yang kemudian berhasil mendapatkan cintanya kemudian konflik antara mereka, konflik, konflik dan konflik rasanya terlalu berat ku baca.

Kenapa harus membaca sesuatu yang membuat perasaan hati gak karuan ?
Kenapa gak mencari hal yang ringan saja yang membuat hati puas dan senang ?

Mungkin karena itu aku selalu mencari kisah cinta ringgan yang jelas berakhir happy ending dan terpilihlah manga ini(karena kupikir bakal ringan dan jelas happy ending).

Hehehe... walau akhirnya ku akui chapter yang sedikit banyak dan konflik tetap sedikit berat menurut...tapi aku tetap membaca dan tetap membaca hanya karena terpesona sungghuh pada pemikiran tokoh utama pria (qoute diatas).

Pemikiran itu sama persis seperti pemikiranku saat itu. "it's like love is a bonus in your life. Even without it, I'm just fine. I don't feel like pointlessly searching for it. You don't have to make yourself unhappy."( Ookami Shoujo to Kuru Ouji). Cinta disini tentu saja cinta cowok dan cewek.

"Aku mending mundur atau melarikan diri dari cowok yang mendekatiku saat aku tak yakin dapat memberikan sebongkah hatiku untuknya atau aku yakin tak bisa memberikan sebongkah hatiku untuknya" seperti itulah.

Namun, tahun-tahun setelahnya hingga hari ini cinta yang semacam itu justrulah yang mewarnai hari-hariku. Tak bisa move on selama tiga tahun kemudian masalah jodoh. Ini bukan manga, teman wanita seusiaku rata-rata memang sudah menikah dan aku belum.

Menikah, aku merasa itu penting sekarang sehingga aku tak mau asal menikahi orang. Cinta dan selektif memilih orang dan pemikiran itu tadi, kadang jadi merasa ada yang kontra di otakku.

Cinta sebagai bonus hidup semacam mengganggap cinta itu tidak penting2 bagt. TApi untuk menikah aku ingin dengan orang yang mencintai dan dicintaiku menjadikan cinta penting. sehingga menimbulkan kontra di hatiku. Aku ingin menikah tapi aku tidak terburu pada cinta. akibatnya menikah pun jadi tidak buru2. mungkin itulah yang buat aku belm menikah,

Yaa... akhirnya ku temukan titik temunya, benang ruwet itu...kutemukan ujung pangkal sebab akibatnya...

DAn perubahan apa yang harus kulalukan adalah menganggap cinta itu bagian dari hidup bukan hanya bonus dari hidup karena sekarang aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. pendamping.... aku merasa kurang....

fighting...You cant doit rizka ....




Bukan review aadc 2 (melihat rangga dari diriku)

Kemarin, aku tanpa sengaja membaca review tentang film ini. Semakin membaca, semakin penasaran. Awal penanyangan di bioskop banyak teman yang kecewa walaupun ada juga yang cukup puas. Aku merasa film ini membawa beban berat. 'Aura' kesuksesan film sequelnya sebelumny begitu gemilang sehingga mau tak mau film ini 'diharapkan' seperti yang sebelumya. Kenapa 'diharapkan' ? Karena aku sendiri merasa lebih tepat menggunakan kata dituntut.
Imajinasi penonton aadc yang puas terhadap aadc 1 mungkin begitu dashyat sehingga melahirkan pengharapan terhadap film ini. Bisa dikatakan 'terlalu tinggi' bagi mereka yang merasa tidak puas setelah melihat film ini. Aku sendiri merasa puas dan tidak puas.
Banyak penonton tidak puas mempertanyakan karakter Rangga yang berubah. Rangga yang super cuek dan berkharisma menjadi lebih 'normal'. Silau kharisma tak seterang aadc 1. Yah, aku juga kehilangan tapi aku juga memahami.
Seseorang setelah 14 tahun tidak mungkin tidak berubah sama sekali. Paling tidak bajunya atau wajahnya. Bayangkan berapa jerawat yang mungkin muncul dalam 14 tahun.
Aku masih percaya lingkungan dan pengalaman memberi andil dalam pembentukan sifat. Karakter mungkin tidak bisa berubah tapi sifat bukan tidak mungkin berubah. Yah, sejak aku belum menonton filmnya aku sudah yakin sifat masih2 tokoh pasti berubah. Karakter rangga yang dulu ku kenal masih bisa kurasa dan kulihat, entah bagaimana itu sudah cukup.
"Sifat rangga menjadi temperament...". Aku membaca salah satu review aadc 2. Ahh... Bukan mau membela, tapi rangga yang ku kenal juga temperament​. Beda rangga aadc1 dan aadc2 hanyalah rangga yang aadc 2 lebih bisa bergaul. Mungkin dia belajar bergaul selama 14 tahun. 14 tahun yang lalu, aku seperti apa ya ?
14 tahun yang lalu, aku tentu masih smp. Mungkin aku secupu rangga waktu itu. Eit.. rangga tidak cupu, otomatis aku tidak cupu hahahaha... Yang jelas aku tak punya teman seperti rangga. Ahh... Mungkin lebih tepatnya aku tak tahu cara berteman. Orang yang kupikir teman entah bagaimana kulihat meninggalkanku dan berbisik tentangku. Untung masih ada yang mau disisiku dan tersenyum padaku sebagai teman.
Aku melihat teman lain sebagai anak gaul yang memandang rendah diriku. Mereka menatapku dangan tatapan mencela. Akibatnya aku tak berani, pendiam, dan minder. Tidak apa... Tidak apa... (Menepuk punggung diri sendiri). Mungkin karena itu aku mengerti yang dirasakan rangga.
Meninggalkan cinta karena tidak yakin pada diri sendiri. Itu juga aku langsung paham. Seringkali orang yang kusukai terlihat begitu tinggi dan silau. Dunia dia dan duniaku berbeda. Dia terlihat begitu bahagia dan teratur dengan dunianya dan duniaku semrawut, kacau.
Bukankan duniaku ini hanya akan merusak dunianya, dirinya ? Bukankah tanpa ku dia juga baik2 saja ? Toh dia tidak menarikku kedunianya dan sepertinya aku yang menjerumuskan dia dalam kekacauan duniaku.
Mungkin tanpa aku dia lebih bahagia ?
Namun, puisi di aadc 2 itu terasa benar
"Jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantungmu,  mereka yang datang kemudian hanya menyentuh kemungkinan.. " dan...